PENDAHULUAN
Banyak mitos ditengah masyarakat kita menyangkut kehamilan. Diantaranya
mitos tentang minum air es yang bisa mengakibatkan kembar air. Menjuluki suatu
kehamilan dengan air ketuban yang kelewat banyak sebagai kembar air tidak
tepat. Jelas bahwa air ketuban itu bukan kembar sang bayi. Air ketuban (cairan
amnion) diproduksi oleh sel (endotel) yang melapisi kantung ketuban dan
permukaan plasenta (ari-ari, uri) dan peresapan cairan (eksudasi) melewati
membran kantung ketuban. Pada proposisi lebih besar, air ketuban dihasilkan air
kencing janin. Dalam keadaan sehat, janin akan minum air ketuban dan
mengeluarkan kembali dalam bentuk kencing, sehingga seolah-olah terjadi suatu
lingkaranatau siklus yang berulang. Itu sebabnya bentuk, rupa, bau ketuban
tidak jauh beda dengan air kencing. Dalam air ketuban juga dijumpai sel-sel
dalam rambut (lanugo) yang terlepas serta butiran lemak yang bisa melapisi
permukaan kulit bayi (verniks kaseosa). Pada suatu keaadan tertentu, air
ketuban didapatkan dalam jumlah yang lebih dari normal keadaan ini disebut
polihidramnion atau kadang disebut hidramnion saja.
Menurut staf pengajar LAB/UPF obstetri dan ginekologi (1989), volume air
ketuban bervariasi menurut usia kehamilan, puncaknya di umur kehamilan sekitar
33 minggu, volume air ketuban berkisar 1 - 1,5 liter. Pada kasus polihidromnion
bisa sampai 3 liter, bahkan 5 liter. Produksi air ketuban yang abnormal baru
biasa terjadi sebelum umur kehamilan mencapai 22 minggu atau 5 bulan. Penyebab
polihidromnion belum dipastikan secara benar, salah satu yang dicurugai adanya
proses infeksi. Dua per tiga kasus polihidromnion tidak diketeahui sebabnya.
Menurut Hanifa Winknjosastro
(2005), polihidromnion meningkatkan resiko kelahiran prematur dan resiko
komplikasi persalinan. Kemungkinan terjadi perdarahan pascapersalinan lebih
tinggi dibanding dari pada perlekatannya sebelum operasi dan terjadinya
kematian janin didalam kandungan. Kejadian bedah caesar juga lebih tinggi
dibandingkan pada kehamilan biasa karena lebih banyak yang tidak normal atau
menurutnya kesejahteraan janin
POLIHIDRAMNION (HIDRAMNION)
Menurut Rustam Muchtar (1998) penjelasan mengenai hidramnion adalah sebagai berikut :
Menurut Rustam Muchtar (1998) penjelasan mengenai hidramnion adalah sebagai berikut :
A.
Definisi
Hidramnion merupakan keadaan dimana jumlah air ketuban lebih banyak dari
normal atau lebih dari dua liter.
B.
Perjalanan penyakit
1.
Hidramnion kronis
Banyak
dijumpai pertambahan air ketuban bertambah secara perlahan-lahan dalam beberapa
minggu atau bulan, dan biasanya terjadi pada kehamilan yang lanjut
2.
Hidramnion akut
Terjadi
penambahan air ketuban yang sangat tiba-tiba dan cepat dalam waktu beberapa
hari saja. Biasanya terdapat pada kehamilan yang agak muda, bulan ke-5 dan
ke-6. komposisi dari air ketuban pada hidramnion, menurut penyelidikan, serupa
saja dengan air ketuban yang normal.
C.
Frekuensi
Yang sering kita jumpai adalah hidramnion yang ringan, dengan jumlah
cairan 2- 3 liter. Yang berat dan akut
jarang. Frekuensi hidramnion kronis adalah 0,5-1%. Insiden dari kongenital
anomali lebih sering kita dapati pada hidramnion yaitu sebesar 17,7-29%.
Hidramnion sering terjadi bersamaan dengan :
a.
Gemelli atau hamil ganda (12,5%),
b.
Hidrops foetalis
c.
Diabetes melitus
d.
Toksemia gravidarum
e.
Cacat janin terutama pada anencephalus dan atresia
esophagei
f.
Eritroblastosis foetalis
D.
Etiologi
a.
Mekanisme terjadi hidramnion hanya sedikit yang kita
ketahui. Secara teori hidramnion terjadi karena :
b.
Produksi air ketuban bertambah; yang diduga
menghasilkan air ketuban adalah epitel amnion, tetapi air ketuban juga dapat
bertambah karena cairan lain masuk kedalam ruangan amnion, misalnya air kencing
anak atau cairan otak pada anencephalus.
c.
Pengaliran air ketuban terganggu; air ketuban yang
telah dibuat dialirkan dan diganti dengan yang baru. Salah satu jalan
pengaliran adalah ditelan oleh janin, diabsorbsi oleh usus dan dialirkan ke
placenta akhirnya masuk kedalam peredaran darah ibu. Jalan ini kurang terbuka
kalau anak tidak menelan seperti pada atresia esophogei, anencephalus atau
tumor-tumor placenta.
Pada anencephalus dan spina bifida diduga bahwa
hidramnion terjadi karena transudasi cairan dari selaput otak dan selaput
sum-sum tulang belakang. Selain itu, anak anencephal tidak menelan dan
pertukaran air terganggu karena pusatnya kurang sempurna hingga anak ini
kencing berlebihan.
Pada atresia oesophagei hidramnion terjadi karena anak
tidak menelan. Pada gemelli mungkin disebabkan karena salah satu janin pada
kehamilan satu telur jantungnya lebih kuat dan oleh karena itu juga
menghasilkan banyak air kencing. Mungkin juga karena luasnya amnion lebih besar
pada kehamilan kembar. Pada hidramnion sering ditemukan placenta besar.
Menurut dr. Hendra Gunawan Wijanarko, Sp.OG dari RSIA
Hermina Pasteur, Bandung
(2007) menjelaskan bahwa hidromnion terjadi karena:
a.
Prduksi air jernih berlebih
b.
Ada
kelainan pada janin yang menyebabkan cairan ketuban menumpuk, yaitu
hidrocefalus, atresia saluran cerna, kelainan ginjal dan saluran kencing
kongenital
c.
Ada
sumbatan / penyempitan pada janin sehingga dia tidak bisa menelan air ketuban.
Alhasil volume ketuban meningkat drastis
d.
Kehamilan kembar, karena adanya dua janin yang
menghasilkan air seni
e.
Ada
proses infeksi
f.
Ada
hambatan pertumbuhan atau kecacatan yang menyangkut sistem syaraf pusat
sehingga fungsi gerakan menelan mengalami kelumpuhan
g.
Ibu hamil mengalami diabetes yang tidak terkontrol
h.
Ketidak cocokan / inkompatibilitas rhesus
E. Predisposisi
Faktor yang dapat mempengaruhi
terjadinya hidromnion, antara lain:
1.
Penyakit jantung
2.
Nefritis
3.
Edema umum (anasarka)
4.
Anomali kongenintal (pada anak), seperti anensefali,
spina bifida, atresia atau striktur esofagus, hidrosefalus, dan struma bloking
oesaphagus. Dalam hal ini terjadi karena :
a.
Tidak ada stimulasi dari anak dan spina
b.
Exscressive urinary secration
c.
Tidak berfungsinya pusat menelan dan haus
d.
Transudasi pusat langsung dari cairan meningeal
keamnion
5.
Simpul tali pusat
6.
Diabetes melitus
7.
Gemelli uniovulair
8.
Mal nutrisi
9.
Penyakit kelenjar hipofisis
10. Pada
hidromnion biasanya placenta lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa
karena itu transudasi menjasdi lebih banyak dan timbul hidromnion
F.
Diagnosis
1.
Anamnesis
a.
Perut lebih besar dan terasa lebih berat dari biasa
b.
Pada yang ringan keluhan-keluhan subyektif tidak banyak
c.
Pada yang akut dan pada pembesaran uterus yang cepat
maka terdapat keluhan-keluhan yang disebabkan karena tekanan pada organ
terutama pada diafragma, seperti sesak (dispnoe), nyeri ulu hati, dan dianosis
d.
Nyeri perut karena tegangnya uterus, mual dan muntah
e.
Edema pada tungkai, vulva, dinding perut
f.
Pada proses akut dan perut besar sekali, bisa syok,
bereringat dingin dan sesak
2.
Inspeksi
a.
Kelihatan perut sangat buncit dan tegang, kulit perut
berkilat, retak-retak, kulit jelas dan kadang-kadang umbilikus mendatar
b.
Jika akut si ibu terlihat sesak (dispnoe) dan sionasis,
serta terlihat payah membawa kandungannya
3.
Palpasi
a.
Perut tegang dan nyeri tekan serta terjadi oedema pada
dinding perut valva dan tungkai
b.
Fundus uteri lebih tinggi dari tuanya kehamilan
sesungguhnya
c.
Bagian-bagian janin sukar dikenali karena banyaknya
cairan
d.
Kalau pada letak kepala, kepala janin bisa diraba, maka
ballotement jelas sekali
e.
Karena bebasnya janin bergerak dan kepala tidak
terfiksir, maka dapat terjadi kesalahan-kesalahan letak janin
4.
Auskultasi
Denyut
jantung janin tidak terdengar atau jika terdengar sangat halus sekali
5.
Rontgen foto abdomen
a.
Nampak bayangan terselubung kabur karena banyaknya
cairan, kadang-kadang banyak janin tidak jelas
b.
Foto rontgen pada hidromnion berguna untuk diagnosa dan
untuk menentukan etiologi, seperti anomali kongenital (anensefali atau gemelli)
6.
Pemeriksaan dalam
Selaput
ketuban teraba dan menonjol walaupun diluar his
G.
Diagnosa banding
Bila seorang ibu datang dengan perut yang lebih besar dari kehamilan yang
seharusnya, kemunginan:
1.
Hidramnion
2.
Gemelli
3.
Asites
4.
Kista ovarri
5.
Kehamilan beserta tumor
H.
Prognosis
Pada janin, prognosanya agak buruk (mortalitas kurang lebih 50%) terutama
karena :
a.
Kongenital anomali
b.
Prematuritas
c.
Komplikasi karena kesalahan letak anak, yaitu pada
letak lintang atau tali pusat menumbung
d.
Eritroblastosis
e.
Diabetes melitus
f.
Solutio placenta jika ketuban pecah tiba-tiba
Pada ibu:
1.
Solutio placenta
2.
Atonia uteri
3.
Perdarahan post partum
4.
Retentio placenta
5.
Syok
6.
Kesalahan-kesalahan letak janin menyebabkan partus jadi
lama dan sukar
I.
Penatalaksanaan
Terapi hidromnion dibagi dalam tiga fase:
- Waktu hamil (di BKIA)
a.
Hidromnion ringan jarang diberi terapi klinis, cukup
diobservasi dan berikan terapi simptomatis
b.
Pada hidromnion yang berat dengan keluhan-keluhan,
harus dirawat dirumah sakit untuk istirahat sempurna. Berikan diet rendah
garam. Obat-obatan yang dipakai adalah sedativa dan obat duresisi. Bila sesak
hebat sekali disertai sianosis dan perut tengah, lakukan pungsi abdominal pada
bawah umbilikus. Dalam satu hari dikeluarkan 500cc perjam sampai keluhan
berkurang. Jika cairan dikeluarkan dikhawatirkan terjadi his dan solutio placenta, apalagi bila anak
belum viable. Komplikasi pungsi dapat berupa :
1)
Timbul his
2)
Trauma pada janin
3)
Terkenanya rongga-rongga dalam perut oleh tusukan
4)
Infeksi serta syok
bila sewaktu melakukan aspirasi keluar darah, umpamanya janin mengenai
placenta, maka pungsi harus dihentikan.
- Waktu partus
a.
Bila tidak ada hal-hal yang mendesak, maka sikap kita
menunggu
b.
Bila keluhan hebat, seperti sesak dan sianosis maka
lakukan pungsi transvaginal melalui serviks bila sudah ada pembukaan. Dengan
memakai jarum pungsi tusuklah ketuban pada beberapa tempat, lalu air ketuban
akan keluar pelan-pelan
c.
Bila sewaktu pemeriksaan dalam, ketuban tiba-tiba
pecah, maka untuk menghalangi air ketuban mengalir keluar dengan deras, masukan
tinju kedalam vagina sebagai tampon beberapa lama supaya air ketuban keluar
pelan-pelan. Maksud semua ini adalah supaya tidak terjadi solutio placenta,
syok karena tiba-tiba perut menjadi kosong atau perdarahan post partum karena
atonia uteri.
- Post partum
a.
Harus hati-hati akan terjadinya perdarahan post partum,
jadi sebaiknya lakukan pemeriksaan golongan dan transfusi darah serta sediakan
obat uterotonika
b.
Untuk berjaga-jaga pasanglah infus untuk pertolongan
perdarahan post partum
c.
Jika perdarahan banyak, dan keadaan ibu setelah partus
lemah, maka untuk menghindari infeksi berikan antibiotika yang cukup
DAFTAR PUSTAKA
Muchtar,
Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I. EGC: Jakarta
Staf Pengajar LAB / UPF Obstetri dan Ginekologi. 1989. Osbetetri Patologi. Ekstar Offset: Bandung
Winknjosastro,
Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. YBP-SP:
Jakarta
http://www.kompas.co.id/kesehatan/news/0509/07/073621.ht
ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS PADA KEHAMILAN
DENGAN HIDRAMNION
I.
PENGUMPULAN
DATA DASAR
A. Pengkajian
Tanggal
07 November 2007 pukul 09.30 WIB
1. Identitas
Nama Istri : Ny K
|
Nama Suami : Tn. M
|
Umur : 28
Tahun
|
Umur : 27 Tahun
|
Agama
: Islam
|
Agama : Islam
|
Pendidikan : SMA
|
Pendidikan : S1
|
Pekerjaan : IRT
|
Pekerjaan
: wiraswasta
|
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
|
Suku : Jawa
|
Alamat : Jl.
Jend. Sudirman
|
Alamat : Jl.
Jend. Sudirman
|
2. Alasan
kunjungan saat ini
Keluhan : Ibu datang hamil anak pertama dengan umur kehamilan 24 minggu mengeluh
sesak nafas sejak 1 minggu yang lalu, disertai keringat dingin, perut terasa
tegang dan lebih berat dari biasanya.
3. Riwayat
kehamilan
a)
Riwayat menstruasi
(1)
Menarche : 14 tahun
(2)
Siklus : 28 hari, teratur
(3)
Banyaknya : 6-7 hari
(4)
Keluhan : agak nyeri
(5)
HPHT : 02 Mei 2007
(6)
TTP : 09 Februari 2008
b)
Tanda-tanda kehamilan (trimerster I)
Hasil tes kehamilan tanggal 09 Mei 2007 hasil positif
c)
Pergerakan fetus dirasakan pertama kali pada umur
kehamilan 20 minggu
d)
Keluhan yang dirasakan :
(1)
Rasa lelah
Ibu mengatakan ia merasa lelah pada 1 minggu
terakhir, disertai dengan sesak nafas dan keringat dingin.
(2)
Mual dan muntah yang lama
Ibu mengatakan tidak mual dan muntah yang lama
(3)
Nyeri perut
Ibu mengatakan tidak nyeri perut
(4)
Sakit kepala berat
Ibu mengatakan tidak sakit kepala berat
(5)
Penglihatan
Ibu mengatakan penglihatannya tidak kabur
(6)
Rasa nyeri / panas waktu BAK
Ibu mengatakan tidak nyeri / panas waktu BAK
(7)
Rasa gatal pada valva, vagina dan sekitarnya
Ibu mengatakan tidak gatal pada vulva dan
vagina
(8)
Pengeluaran cairan pervaginam
Ibu mengatakan tidak ada pengeluaran cairan
dari vagina
(9)
Nyeri, kemerahan dan tegang pada tungkai
Tidak
(10) Oedema
Tidak ada oedema
4. Pola
kebiasaan sehari-hari
a.
Nurisi
Sebelum hamil : Ibu
mengatakan biasanya makan 3x sehari dengan nasi, sayur, dan lauk dengan porsi
sedang, tetapi ibu selalu minum 7-8 gelas per hari
Sesudah hamil : Dalam
1 minggu terakhir, porsi makan ibu berkurang, ibu merasa cepat kenyang
b.
Eliminasi
Sebelum hamil : BAB:
1x sehari BAK: 3-4 x sehari
Sesudah hamil : BAB:
1x sehari BAK: 9-10x sehari
Ibu mengatakan sering BAK
terutama pada malam hari
c.
Istirahat dan tidur
Sebelum hamil : Ibu
tidur malam 7-8 jam/hari tidur siang 1 jam
Sesudah hamil : Ibu
tidak dapat tidur karena keluhan yang dirasakannya. Ibu hanya dapat tidur 4-5
jam/hari, dengan keadaan terputus-putus
d.
Aktifitas seksual
Sebelum hamil : Ibu
melakukan hubungan seksual 2x/minggu
Sesudah hamil : Ibu
mengatakan pada 1 minggu terakhir tidak melakukan hubungan suami istri, karena
ibu mengalami ganguan rasa nyaman
e.
Pekerjaan
Sebelum hamil : Ibu
melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasa tanpa ada keluhan
Sesudah hamil : Ibu
hanya melakukan pekerjaan rumah tangga yang ringan saja. Karena ibu merasa
cepat lelah
f.
Personal hygiene
Sebelum dan sesudah hamil ibu mandi
2x sehari, dan pencucian vagina dilakukan setelah mandi, BAB dan BAK
5. Imunisasi,
TT I tanggal 21 Oktober 2007 di bidan, TT II belum dilakukan
6. Riwayat
kesehatan
- Ibu tidak menderita penyakit kronis atau menular
- Ibu tidak pernah menggunakan alkohol / obat-obatan
- Ibu tidak pernah merokok dan makan sirih
- Iritasi vagina / ganti pakaian dalam 2x sehari
7. Riwayat
sosial
Ibu mengatakan kehamilan ini direncanakan / diinginkan, jenis kelamin
yang diharapkan adalah laki-laki. Status perkawinan syah 1x, lama perkawinan 1
tahun, tinggal di rumah sendiri bersama suami, ibu tidak percaya terhadap
kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan persalinan dan nifas ibu ingin
bidan untuk membantu persalinan.
8. Riwayat
kesehatan keluarga
Ibu mengatakan tidak ada penyakit keturunan
9. Data
psikologis
Ibu mengatakan agak cemas dengan perubahan pada perutnya dalam 1 minggu
terakhir
B. Pemeriksaan
1.
Pemeriksaan umum
Keadaan umum : baik Kesadaran :
composmentis
Keadaan emosional : gelisah dan cemas
2.
Ukuran LILA :
24 cm
3.
Tanda-tanda vital
- TD : 100/70 mmHg
- Suhu : 36oC
- Nadi : 85x / menit
- Pernafasan : 25x/ menit
4.
Berat Badan
Saat ini : 56,5 Kg
Sebelum hamil : 50 Kg
Kenaikan BB
selama hamil : 6,5 Kg
5.
Tinggi badan :
157 cm
6.
Pemeriksaan fisik
- Inspeksi
1)
Rambut : lurus, tidak ada ketombe, dan tidak mudah rontok, keadaan bersih
2)
Muka : bentuk simeris dan agak pucat, keadaan bersih
tidak ada oedema
3)
Mata : bentuk simeris, tidak ada pembengkakan pada
kelopak mata, kojungtiva merah muda, sklera tidak ikterik, fungsi penglihatan
baik
4)
Hidung : bentuk simetris, keadaan bersih dan tidak ada
pembesaran polip, fungsi penciuman baik
5)
Telinga : bentuk simetris, keadaan bersih, fungsi
pendengaran baik
6)
Mulut : bentuk simetris, tidak terdapat stomatitis, keadaan
gigi bersih, tidak ada pembengkakan toncil
7)
Leher :
tidak ada pembesaran kelenjar thiroid,
kelenjar limfe, dan tidak ada pembengkakan vena jugularis
8)
Dada : bentuk buah dada simetris, pergerakan nafas
teratur, tidak ada benjolan abnormal
9)
Payudara : membesar, simetris, puting susu menonjol,
hiperpigmentasi, tidak ada benjolan abnormal, keadaan bersih
10) Punggung
: keadaan
lordosis, michelis simetris, tidak ada nyeri
11) Perut
: bentuk simetris membesar tidak sesuai dengan usia kehamilan, kulit
perut berkilat
12) Genetalia
: keadaan bersih, tidak ada keluhan tidak ada haemoroid, harices dan
elisterna oedema
13) Ekstemitas
Atas : bentuk simetris, tidak ada cacat tidak ada oedema, keadaan bersih
dapat berfungsi dengan baik, terasa pegal-pegal
Bawah : bentuk
simetris, tidak ada cacat, keadaan bersih, tidak ada oedema, dapat berfungsi
dengan baik, terasa pegal-pegal
- Palpasi
1)
Leopold I : TFU 2 jari diatas pusat
2)
Leopold II : perut teraba tegang, teraba ballotement janin
letak memanjang, bagian-bagian janin sukar diraba
3)
Leopold III : tidak dilakukan
4)
Leopold IV : tidak dilakukan
5)
Mc. Donal : 26 cm
6)
TBJ : (26-12) x 155 = 2170 gram
- Auskultasi
1)
Jantung :
bunyi jantung normal, teratur, tidak ada mur-mur
2)
Paru-paru : tidak terdengar wheezing maupun ronchi
3)
DJJ terdengar jauh dan halus di bawah pusat sebelah
kanan, frekuensi 126x/menit, teratur
- Perkusi
Reflek patela : (+)
C. Pemeriksaan laboratorium
Hb : 10gr%
Protein Urine : negatif
II. INTERPRESTASI DATA DASAR, DIAGNOSA, MASALAH
DAN KEBUTUHAN
- Diagnosa
Ibu
dengan GIP0A0 hamil 24 minggu, janin hidup,
tunggal, intrauterin dengan hidramnion.
Dasar :
S : a. Ibu mengatakan hamil anak pertama. Ibu
mengatakan perutnya cepat membesar dan terus lebih berat dari biasanya, sesak
nafas disertai dengan keringat dingin dalam satu minggu terakhir
b. HPHT: 02 Mei 2007
O : a. PP test positif
b. TFU dua jari di atas pusat : 26 cm
c. Pernafasan : 25/menit
f. Suhu :
36oC
g. DJJ 126x/ menit, perut teraba tegang
janin letak memanjang DJJ terdengar jauh dan halus
- Masalah
a.
Ibu merasa cemas terhadap kehamilannya
Dasar :
S : 1) Ibu mengatakan ibu khawatir dengan keadaan
ini karena ibu merasa perutnya cepat membesar dalam 1 minggu terakhir
2) Ibu sangat mengharapkan kehamilan berjalan
normal dan janinnya selamat
O : 1)
Ibu tampak gelisah
2) Ibu
terlihat agak pucat
b.
Gangguan pola istirahat dan tidur
Dasar :
S : Ibu
mengatakan hanya tidur 4-5 jam sehari dengan terputus akibat dari kelelahan
yang dirasakan
O : Konjungtiva
ibu sangat pucat karena kurang istirahat
- Kebutuhan
a.
Penjelasan tentang keadaan ibu saat ini
b.
Penjelasan tantang hidromnion
c.
Pemberian dukungan dan motivasi pada ibu
III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
Potensial terjadi solutio placenta (jika ketuban
pecah tiba-tiba), prematuritas pada janin dan perdarahan postpartum
IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN YANG MEMERLUKAN
PENANGANAN SEGERA DAM KOLABORASI
Kolaborasi dengan dokter dan tenaga kesehatan
lainnya bila terjadi komplikasi lebih lanjut.
V. PERENCANAAN
1.
Jelaskan pada ibu dan keluarga, keadaan ibu dan janin
saat ini
a.
Jelaskan pada ibu dan keluarga, keadaan ibu dan janin
saat ini dalam keadaan baik
b.
Beritahu keluarga bahwa ibu membutuhkan perhatian yang
intensif
2.
Anjurkan ibu untuk banyak istirahat dan mengurangi
aktifitas / pekerjaan yang berat
a.
Anjurkan ibu untuk istirahat dan cukup tidur 8 jam
sehari
b.
Anjurkan ibu untuk tidak melakukan perkerjaan rumah
tangga yang biasa dilakukan sebelum hamil
c.
Anjurkan ibu untuk tetap rileks dan tenang menghadapi
kehamilannya saat ini
d.
Anjurkan ibu untuk istirahat baring dalam keadaan
setengah duduk atau miring ke kiri
3.
Anjurkan ibu untuk mengatur pola makan
a.
Anjurkan ibu untuk diet rendah garam
b.
Anjurkan ibu untuk makan 3 kali sehari dengan nutrisi
yang cukup
c.
Anjurkan ibu untuk makan makanan yang berserat
4.
Libatkan suami dan keluarga dalam kehamilan ibu saat
ini
a.
Libatkan keluarga untuk selalu memberikan dukungan pada
ibu
b.
Beritahu keluarga untuk dapat meyakinkan kondisi ibu
dan janinnya baik-baik saja
c.
Persiapkan ibu dalam menghadapi semakin bertambahnya
usia kehamilannya
5.
Observasi keadaan umum, pembesaran perut dan kenaikan
berat badan ibu
a.
Waspadai adanya komplikasi dalam kehamilan
polihidramnion
b.
Pantau keadaan ibu dan janin agar dapat dideteksi dini
adanya komplikasi
c.
Anjurkan ibu untuk datang kembali dan memeriksakan
kehamilannya dalam 1 minggu mendatang atau bila ada keluhan
6.
Evaluasi perkembangan psikologis dan kejiwaan ibu
a.
Evaluasi perkembangan kecemasan dan kekhawatiran ibu
terhadap janinnya
b.
Meyakinkan ibu bahwa ibu dan janin dalam keadaan sehat
VI. PELAKSANAAN / IMPLEMENTASI
- Menjelaskan pada ibu dan keluarga tentang kondisi ibu dan janin saat ini. Saat ini ibu dan janin dalam keadaan baik-baik saja pembesaran perut ibu yang cepat dalam 1 minggu terakhir disebabkan karena adanya peningkatan produksi air seni janin yang berlebihan. Si jabang bayi minum air ketuban dalam jumlah seimbang dengan air seni yang dihasilkan.
- Menganjurkan ibu untuk banyk istirahat dan mengurangi aktifitas / pekerjaan yang berat. Menganjurkan pada ibu untuk istirahat cukup 8 jam sehari. Menganjurkan ibu istirahat dalam keadaan setengah duduk. Untuk mengurangi gangguan rasa nyaman ibu terhadap pembesaran perut yang cepat yang menyebabkan tekanan pada organ deperti diaferagma sehingga mengakibatkan ibu sesak nafas.
- Menganjuran ibu untuk diet rendah garam tetapi pemenuhan kebutuhan tetap terpenuhi, seperti mengkonsumsi sayur-sayuran, lauk-pauk, buah-buahan dalam porsi sedang, 3x sehari. Menganjurkan ibu untuk minum 8-12 gelas tiap hari untuk menghindari terjadinya konstipasi
- Melibatkan suami dan keluarga untuk selalu memberikan dukungan pada ibu. Karena ibu membutuhkan pengertian emosional, konseling, serta perhatian lebih. Dukungan dari suami dan keluarga sangat berpengaruh dalam proses mengembalikan kestabilan emosional ibu atas kecemasan dan kekhawatiran terhadap kehamiannya.
- Mengobservasi keadaan umum seperti tekanan darah, nadi, suhu, dan pernafasan. Karena cairan ketuban yang berlebih menimbulkan keluhan-keluhan seperti gangguan pernafasan yang berat, pertambahan berat badan yang berlebih. Keluhan tersebut akhirnya akan memicu terjadinya hipertensi dalam kehamilan sehingga pemantauan tekanan darah sangat penting.
- Mengevaluasi perkembangan psikologis dan kejiwaan ibu dengan melakukan konseling kepada ibu, meyakinkan ibu bahwa ibu dan janin dalam keadaan baik dan sehat.
VII. EVALUASI
1.
Ibu sudah mengerti tentang kondisinya dan janin dalam
kandungannya saat ini
- Suami dan keluarga akan memberikan dukungan psikologis pada ibu
- Ibu masih nampak cemas dengan kondisinya saat ini
- Ibu mengatakan akan melaksanakan anjuran yang telah dijelaskan
- Tanda-tanda vital:
TD :
110/80 mmHg
Suhu : 36oC
RR :
23x/menit
Nadi :
85x/menit
CATATAN PERKEMBANGAN
Tanggal
10 November 2007 ,
pukul 10.15 WIB
S : a. Ibu
mengatakan mengerti keadaan ibu dan janinnya saat ini
b. Ibu mengatakan berusaha istirahat total dan
masih cemas dengan kehamilannya
c. Ibu mengatakan akan makan makanan rendah
garam
d. Ibu mengatakan purutnya agak nyari
O : a. Ibu terlihat tampak cemas
b. Keadaan umum
TD : 100/70 mmHg
Pols : 80x/menit
RR : 22x/ menit
Temp : 36oC
BB : 57 kg
c. TFU 2 jari diatas pusat : 26 cm ( fundes
uteri lebih tinggi dari tuanya kehamilan)
d. Perut ibu teraba tegang
e. DJJ 130x / menit, terdengar halus dan jauh
f. Bagian-bagian janin sukar diraba
g. PP test positif HPHT 02 Mei 2007
A : a.
Ibu dengan hidromnion akut, gangguan
pola istirahat / tidur
b. Potensial terjadi solutio placenta, jika
ketuban pecah tiba-tiba
P : a.
Lakukan pemeriksaan dan observasi
keadaan ibu dan janin
1) Periksa tanda-tanda vital ibu seperti tekanan
darah, nadi, pernafasan, dan suhu, pantau kenaikan BB ibu.
2) Priksa DJJ
b. Anjurkan pada ibu untuk tetap istirahat dan
cukup tidur
c. Beri ibu dukungan terhadap kehamilannya
1) Jelaskan pada ibu agar tidak terlalu khawatir
terhadap kondisi kehamilannya
2) Anjurkan pada ibu untuk selalu berserah diri
kepada Allah swt
d. Anjurkan pada ibu untuk melakukan Anc minimal
4x atau bila ada keluhan
Tanggal
15 November 2007 ,
pukul 09.30 WIB
S : a. Ibu
sangat mengerti keadaan ibu dan janinnya
saat ini
b. Ibu mengatakan sudah dapat tidur siang
meskpun hany 30 menit
c. Ibu mengatakan sudah makan makanan rendah
garam
d. Ibu mengatakan sudah tidak terlalu sesak
nafas
e. Ibu mengatakan perutnya masih terasa agak
nyeri
O : a. Ibu sudah terlihat lebih tenang dari
sebelumnya
b. Keadan umum
TD : 120/70 mmHg
Pols : 85x/menit
RR : 20x/ menit
Temp : 37,5oC
BB : 57 kg
c. TFU 2 jari diatas pusat : 26 cm ( fundes
uteri lebih tinggi dari tuanya kehamilan)
d. Perut ibu masih teraba tegang
e. DJJ 128x / menit, terdengar halus dan jauh
f. Bagian-bagian janin sudah bisa diraba, janin
tegak memanjang
A : a.
Ibu dengan hidromnion akut, gangguan
pola istirahat / tidur
b. Potensial terjadi solutio placenta, jika
ketuban pecah tiba-tiba
P : a. Lakukan pemeriksaan dan observasi keadaan
ibu dan janin
b. Anjurkan pada ibu untuk tetap istirahat dan
cukup tidur
c. Beri ibu dukungan dan perhatian untuk
kestabilan emosionalnya
d. Anjurkan pada ibu untuk melakukan Anc minimal
4x atau bila ada keluhan
e. Mengingatkan ibu untuk melakukan imunisasi
TT2
Tanggal
20 November 2007 ,
pukul 10.00 WIB
S : a. Ibu
dan keluarga mengerti keadaan ibu dan
janinnya saat ini
b. Ibu tidak cemas lagi dengan kehamilanya
c. Ibu sudah dapat tidur dengan nyenyak dan
tidak terputus-putus
d. Ibu mengatakan rasa nyeri pada perutnya sudah
agak berkurang
O : a.
Ibu sudah merasa lebih baik dan lebih
tenang dari sebelumnya
b. Keadan umum
TD : 120/70 mmHg
Pols : 80x/menit
RR : 22x/ menit
Temp : 36,5oC
BB : 57 kg
c. TFU 3 jari diatas pusat : 27 cm (sama dengan
tuany kehamilan)
d. Perut ibu sudah tidak teraba tegang seperti
sebelumnya
A : a.
Ibu dengan hidramnion akut dengan
gangguan pola istirahat atau tidur
b. Potensial terjadi solutio placenta, jika ketuban pecah tiba-tiba
P : a.
Lakukan pemeriksaan dan observasi
keadaan ibu dan janin
b. Anjurkan pada ibu untuk tetap istirahat dan
cukup tidur
c. Beri pada ibu untuk kestabilan emosionalnya
d. Beri penyuluhan pada ibu tentang persiapan
persalinan
DAFTAR PUSTAKA
Muchtar,
Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I. EGC: Jakarta
Staf Pengajar LAB / UPF Obstetri dan Ginekologi. 1989. Osbetetri Patologi. Ekstar Offset: Bandung
Winknjosastro,
Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. YBP-SP:
Jakarta
http://www.kompas.co.id/kesehatan/news/0509/07/073621.ht
Tidak ada komentar:
Posting Komentar