BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
A. Tinjauan Umum Tentang persalinan
1. Pengertian Persalinan
a. Partus atau Persalinan adalah suatu proses atau serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran produk konsepsi yaitu janin,plasenta dan selaput ketuban dari uterus melalui vagina atau jalan lahir kedunia luar. (Djuhadiah.s,2011 hal 2)
b. Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya servik,dan janin turun ke dalam jalan lahir.(Saifuddin bari,2002,hal 100).
c. Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar.(Wiknjosastro hanifa,2005,hal 180).
d. Persalinan normal adalah pengeluaran hasil konsepsi yang dikandung Selama 37-42 minggu,persentase belakang kepala/ubun-ubun kecil dibawah simpisis melalui jalan lahir biasa keluar dengan tenaga ibu disusul dengan pengeluaran plasenta dan berlangsung < 24 jam.(Djuhadiah.s,2011 hal 2)
2. Macam-macam Persalinan (Djuhadiah.S,2011,hal 2-3)
a. Persalinan normal adalah proses kelahiran janin pada kehamilan aterm / 37 minggu sampai 40 minggu,letak memanjang,persentase belakang
kepala,disusul plasenta dengan tenaga ibu sendiri dalam waktu kurang dari 24 jam.
b. Persalinan buatan atau persalinan abnormal atau distosia adalah persalinan yang berlangsung dengan bantuan dari luar sehingga bayi dapat di lahirkan pervaginam (ekstraksi forsep/cunam,ekstraksi vacum),dan per abdomen yaitu seksio sesar (SC).
c. Persalinan anjuran atau induksi persalinan adalah bila persalinan mulai tidak dengan sendirinya tetapi baru berlangsung setelah pemberian peticin atau prostaglandin atau setelah pemecahan air ketuban.
d. Persalinan lama bila persalinan berlangsung lebih dari 24 jam
3. Persalinan menurut umur kehamilan(Djuhadiah.S,2011,hal 3)
a. Partus immaturus adalah umur kehamilan kurang dari 28 minggu,lebih dari 20 minggu dengan berat janin antara 1000-500 gr.
b. Partus prematurus adalah persalinan dari hasil konsepsi pada kehamilan 28-36 minggu,jani dapat hidup tapi premature berat janin 1000-2500 gram.
c. Partus maturus atau aterm/full term/cukup bulan adalah pertus yang kehamilan 37 – 40 minggu(266 – 280 hari)janin matur berat badan diatas 2500 gram.
d. Partus postmaturus/serotinus adalah persalinan yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu partus yang diperkirakan.
e. Partus presipatatus adalah partus yang berlangsung terlalu cepat.
4. Sebab-sebab Terjadinya Persalinan (Djuhadiah.S,2011,hal 3 - 4)
a. Teori penurunan kadar hormone progesterone
b. Teori plasenta menjadi tua
c. Stimulasi / rangsangan hormone oksitocin
d. Peregangan otot uterus
e. Teori iritasi mekanik
f. Teori hypocrates
g. Rangsangan hormon prostaglandin
h. Induksi partus
i. Gagang laminaria
j. Amniotomi
k. Oksitosin drips
l. Misoprostol(sitotec/gastrul)
5. Tanda-tanda Permulaan Persalinan (Djuhadiah.S,2010,hal 5)
a. Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida.kira-kira 2 – 3 minggu sebelum mulainya persalinan
b. Perut kelihatan lebih melebar,fundus uteri turun.
c. Perasaan sering-sering kencing atau susah kencing karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
d. Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus(false labor pains).
e. Serviks menjadi lembek,mulai mendatar dan sekresinya mendatar bisa bercampur darah (bloody show).
6. Tanda-tanda In-Partu ( Djuhadiah.S,2010,hal 4,)
a. Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih sering,dan teratur.
b. Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak karena robekan robekan kecil pada serviks.
c. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
d. Pada pemeriksaan dalam serviks mendatar dan pembukaan telah ada.
Adapun factor-faktor yang berperan dalam persalinan adalah :
1) Kekuatan mendorong janin keluar (power)
a) His (kontraksi uterus)
b) Kontraksi otot-otot dinding perut,
c) Kontraksi diafragma,
2) Faktor janin (passenger)
3) Jalan lahir (passage)
4) Psikologi ibu (psikologik)
5) Implantasi plasenta (plasenta)
7. Tahap-tahap Persalinan(Djuhadiah.S,2010,hal 4,)
a. Kala pembukaan (kala I)
Di mulai dari timbulnya kontraksi uterus atau his persalinan yang di tandai dengan adanya pengaruh terhadap serviks uteri sampai dengan pembukaan lengkap (full Delatation) kira-kira 10 cm.
Kala pembukaan di bagi atas 2 fase yaitu :
1) Fase laten : dimana pembukaan serviks berlangsung lambat,sampai pembukaan 3 cm berlangsung dalam 7-8 jam.
2) Fase aktif : berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 subfase :
a) Periode akselerasi : berlangsung 2 jam,pembukaan menjadi 4 cm
b) Periode dilatasi maksimal : selama 2 jam,pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm.
c) Periode deselarasi : berlangsung lambat,dalam waktu 2 jam pembukaan jadi 10 cm atau lengkap.
(1). Primigravida : 6 – 18 jam (rata-rata 13 jam)
(2). Multigravida : 2 – 10 jam (rata-rata 7 jam)
b. Kala pengeluaran ( II )
Dimulai sejak pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi
1) Primipara : 1 – 2 jam (rata-rata 1,5 jam)
2) Multipara : ½ – 1 jam (rata-rata 20 menit)
c. Kala pelepasan dan pengeluaran plasenta ( kala III )
Dimulai sejak bayi lahir sampai dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban komplit,seluruh proses biasanya berlangsung 5 – 30 menit.
d. Kala pengawasan (kala IV)
Dimulai sejak lahirnya plasenta dan selaput ketuban sampai keadaan ibu mulai stabil yaitu 1 – 2 jam setelah persalinan berlangsung.
8. Mekanisme persalinan (Djuhadiah.S,2010,hal 59 - 61)
Mekanisme persalinan adalah rentetan gerekan pasif dari janin melalui jalan lahir
a. Turunnya kepala
Yaitu masuknya kepala dalam pintu atas panggul dan majunya kepala
b. Fleksi
Dagu dibawah lebih dekat kearadameter h janin dan diameteroccipito bregmatika(9,5)menggantikan diameter occipito frontal(11 cm)
c. Rotasi dalam
Pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehigga bagian terendah dari bagian depan memutar ke depan kebawah simphysis.
d. Ekstensi
Setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai di dasar panggul,terjadilah ekstensi atau defleksi dari kepala.
e. Restitusi/rotasi luar
Setelah kepala lahir,maka kepala anak memutar kembali ke arah punggung anak untuk meenghilangkan torsi pada leher yang terjadi karna putaran paksi dalam.
f. Ekspulsi
Setelah rotasi luar bahu depan sampai di bawah symphysis dan menjadi hypomochlionnya untuk kelahiran bahu belakang.Kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya seluruh badan anak lahir sesuai kurve jalan lahir.
B. Tinjauan Umum Tentang Ketuban Pecah Dini Preterm
1. Pengertian Ketuban Pecah Dini
a. Ketuban pecah dini preterm adalah pecahnya selaput ketuban pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu.( Manuaba 2008 )
b. Ketuban pecah prematur pada preterm yaitu pecahnya membran Chorio-amniotik sebelum onset persalinan pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau disebut juga Preterm Premature Rupture Of Membrane = Preterm Prelabour Rupture Of Membrane = PPROM.
(Http://e.infomu.com/kategori-19-obstetri-ginekologi.html)
c. Ketuban Pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban pada setiap saat sebelum permulaan persalinan tanpa memandang apakah pecahnya selaput ketuban terjadi pada kehamilan 24 minggu atau 44minggu.
(health.groups.yahoo.com/group/hypnobirthing/message/1825 - 29k – diakses 20 oktober 2011)
2. Etiologi
Walaupun banyak publikasi tentang KPD preterm, namun penyebabnya masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD preterm, namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Faktor yang berhubungan dengan meningkatnya insidensi KPD preterm antara lain :
· Fisiologi selaput amnion/ketuban yang abnormal
· Inkompetensi serviks
· Infeksi vagina/serviks
· Kehamilan ganda
· Polihidramnion
· Trauma
· Distensi uteri
· Stress maternal
· Stress fetal
· Infeksi
· Serviks yang pendek
· Prosedur medis
(http//www.compleatmother.com/promhtm,2002. Diakses 20 oktober 2011)
3. Faktor Predisposisi
1. Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun ascenden dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD. Penelitian menunjukkan infeksi sebagai penyebab utama ketuban pecah dini.
2. Servik yang inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada servik uteri (akibat persalinan, kuretase).
3. Tekanan intra uterin yang meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus) misalnya tumor, hidramnion, gemelli.
4. Trauma oleh beberapa ahli disepakati sebagai faktor predisisi atau penyebab terjadinya KPD. Trauma yang didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam, maupun amnosintesis menyebabkan terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi
5. Kelainan letak misalnya lintang, sehingga tidak ada bagian terendah yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap membran bagian bawah.
6. Keadaan sosial ekonomi yang berhubungan dengan rendahnya kualitas perawatan antenatal, penyakit menular seksual misalnya disebabkan oleh Chlamydia trachomatis dan Neischeria gonorhoe.
Http:/www.kuliahbidan.wordpress.com/2008/11/01/ketuban-pecah-dini
4. Diagnosa (Manuaba, 2004)
Diagnosa Ketuban Pecah Dini ditegakkan dengan cara :
a. Anamneses
Penderita mengeluarkan cairan yang banyak secara tiba-tiba dari jalan lahir, cairan berbau khas, keluarnya cairan sebelum umur kehamilan 37 minggu dan belum ada tanda pemukaan.
a. Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa tampak keluarnya cairan dari vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, periksaan ini akan lebih jelas.
b. Pemeriksaan dengan speculum
Pemeriksaan inspekulo secara steril merupakan langkah pemeriksaan pertama terhadap kecurigaan KPD. Pemeriksaan dengan spekulum pada KPD akan tampak keluar cairan dari orifisium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga tampak keluar, fundus uteri ditekan, penderita diminta batuk, megejan atau megadakan manuvover valsava, atau bagian terendah digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada forniks posterior. 3 Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa warna, bau dan pH nya. Air ketuban yang keruh dan berbau menunjukkan adanya proses infeksi.
c. Pemeriksaan dalam
Didapat cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi. Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan tocher perlu dipertimbangkan, pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu dilakukan pemeriksaan dalam. Karena pada waktu pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan flora vagina yang normal. Mikroorganisme tersebut biasa dengan cepat menjadi patogen. Pemeriksaan dalam vagina hanya dilakukan kalau KPD yang sudah dalam persalinan dan dibatasi sedikit mungkin
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaa laboratorium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa warna, konsentrasi, bau dan PH-nya.
1) Tes lakmus (tes Nitrazin): jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis) karena pH air ketuban 7 – 7,5 sedangkan sekret vagina ibu hamil pH nya 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna, tetap berwarna kuning. Darah dan infeksi vagina dapat mengahsilakan tes yang positif palsu
2) Mikroskopik (tes pakis): dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.
b. Pemeriksaan ultrasonografi USG
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri dan konfirmasi usia kehamilan.Walaupun pendekatan diagnosis KPD preterm cukup banyak macam dan caranya, namun pada umumnya KPD Preterm sudah bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan sederhana.
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri dan konfirmasi usia kehamilan.Walaupun pendekatan diagnosis KPD preterm cukup banyak macam dan caranya, namun pada umumnya KPD Preterm sudah bisa terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan sederhana.
(http://lenteraimpian.wordpress.com/ diakses 20 oktober 2011)
6. Insidensi
Insidensi KPD berkisar antara 8-10 % dari semua kehamilan. Hal yang menguntungkan dari angka kejadian KPD yang dilaporkan,bahwa lebih banyak terjadi pada kehamilan cukup bulan dari pada kurang bulan, yaitu sekitar 95 %, sedangkan pada kehamilan kurang bulan terjadi sekitar 34 %. http//www.chclibrary.org/micromed,2001. diakses 20 oktober 2011
7. Komplikasi Ketuban Pecah Dini (Mochtar Rustam 1998)
Ketuban pecah dini berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan,jarak antara pecahnya ketuban dan permualaan dari persalinan disebut fase laten ,makin mudah umur kehamilan makin panjang fase latennya,sednagkan lama persalinan lebih pendek dari biasanya yaitu pada primi 10 jam dan multi 6 jam.Bila priode laten terlalu panjang dan ketuban sudah pecah maka dapat terjadi infeksi yang dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak.
a. Terhadap ibu
Karena jalan lahir sudah membuka dapat terjadi infeksi intrapartal,apalagi bial terlalu sering pemeriksaan dalam(VT).Selain itu juga dapat dijumpai puerperalis( Nifas ),ibu akan merasa lelah karena terbaring di tempat tidur ,partus akan menjadi lama ,maka suhu badan naik, nadi cepat dan nampaklah gejala-gejala infeksi dan juga dapat menyebabkan atonia uteri,perdarahan post partum.
b. Terhadap janin
Walupan ibu belum menunjukkan gejala-gejala infeksi,tetapi janin mungkin sudah terkena infeksi,karna infeksi intra uteri lebih dulu terjadi (amnionitis,vaskulitis) sebelum gejala pada ibu dirasakan.Selain itu dapat menyebabkan aspeksia pada janin dan juga prematuritas sehingga akan meninggikan mortalitas dan morbiditas perinatal.
Komplikasi kehamilan dan persalinan salah satunya adalah KPD dapat meningkatkan akngka kesakitan dan kematian ibu,sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran surat Al-Maryam ayat 23,bagaimana perjuangan seorang ibu pada saat melahirkan.
Artinya :
Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: `Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan`.
(QS. 19:23)
(QS. 19:23)
Dari ayat diatas dijelaskan bahwa maka,rasa sakit akibat kontraksi akan melahirkan anak,memaksa dia menuju ke pangkal pohon kurma untuk bersandar kini,terbayang olehnya sikap dan cemooh yang akan didengarnya karna dia memiliki anak tanpa suami ,dan karna itu dia berkata “Aduhai alangkah baiknya kalau aku mati yakni tidak pernah wujud sama sekali dipentas hidup sebelum ini,yakni sebelum kehamilan ini agar aku tidak memikul aib dan malu dari suatu perbuatan yang sama sekali tidak aku lakukan dan menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilepaskan selama-lamanya dan gerakan yang sangat keras desakan janin untuk keluar melalui rahih mengakibatkan pergerkana anak dalam perut dan mengakibatkan kotraksi sehingga menimbulkan rasa sakit dari sini.kata tersebut dipahami dalam arti sakit yang mendahului kelahiran anak (M.Quraihs Shihab Tafsir Al-Misbah) dan juga dijelaskan bahwa betapa besar perjuangan seorang ibu pada saat proses melahirkan.Oleh karna itu kita sebgai anak senantiasa patuh dan hormat kepada kedua orang tua .Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qu’ran surah Al-Ahqaf:15
Artinya :
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".(QS.Al-Ahqaaf:15)
Dari ayat diatas menguraikan hak orang tua terhadap anak.Memang Al-Quran sering menyanding kewajiban taat kepada Allah dengan kewajiban patuh kepada kedua orang tua ,Rasul saw pun menggaris bawahi bahwa :”Ridha Allah pada Ridha kedua orang tua dan murkanya pada murkanya keduanya “.(HR.Bukhari,Muslim,dan lain-lain melalui Abdullah Ibn.Mas’ud)
Sesungguhnya kami telah memerintahkan manusia siapapun manusia itu selama dia benar-benar manusia ,Agar taat kepada kami sepanjang hidup mereka dan kami telah mewasiatkan yakni memerintahkan dan berpesan kepada manusia juga denagn wasiat yang baik yaitu agar berbuat baik dan berbakti terhadap kedua orang tuanya,siapapun dan apapun agama kepercayaan atau sikap dan kelakuan orang tuanya ,ini antara lain karna ayahnya terlibat dalam kejadiannya dan setelah snag ayah mencampakkan sperma kedalam rahim ibunya,sang ibu mengandungnya dengan susah payah,sambil menagalami aneka kesulitan bermula dari mengidam,dengan gangguan fisik dan psikis ,dan nelahirkan dengan susah payah setelah masa kehamilan berlalu.masa kandungannya dalam perut ibu dan penyapihannya yang paling sempurna adalah tiga puluh bulan sehingga apabila ia,yakin sang anak telah dewasa yakni sempurna awal masa bagi kekuatan fisik dan psikisnya,ia berbakti kepada kedua orang tuannya dan kebaktiannya berlanjut sampai ia mencapai usia empat puluh tahun yakni masa kesempurnaan ,kedewasaannya dan sejak itu ia berdoa nmemohon gar pengabdiannya kepada kedua orang tuannya semakin bertambah.Dan dari ayat diatas jelas bahwa sebagai seorang anak senantiasa menghormati orang tua.dimana ibu dengan penuh pengetahuan selama hamil,melahirkan,menyusui dan merawat anak-anaknya .Wajiblah seorang anak untuk selalu berbuat baik kepada kedua orang tua. (M.Quraihs Shihab Tafsir Al-Misbah)
Komplikasi yang biasa terjadi pada Ketuban Pecah Dini, antara lain :
1) Infeksi intra uterin
2) Partus prematur
3) Tali pusat menumbung
4) Distosia (Partus kering)
8. Patofisiologi Ketuban Pecah Dini Preterm
Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini preterm :
a. Terjadinya pembukaan premature serviks
b. Membrane terkait dengan pembukaan terjadi:
1) Devaskularisasi
2) Nekrosis dan dapat diikuti dengan pecah spontan
3) Jaringan ikat yang menyangga membrane ketuban makin berkurang
4) Melemahnya daya tahan ketuban dipercepat dengan infeksi yang mengeluarkan enzim kolagenase
( Manuaba I.B.G,2001,hal 221.)
9. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ketuban pecah dini pada kehamilan preterm tidak jauh beda dari KPD yang aterm,berupa penanganan.
1) konservatif
a. Rawat di Rumah Sakit, ditidurkan dalam posisi trendelenberg, tidak perlu dilakukan pemeriksaan dalam untuk mencegah terjadinya infeksi dan kehamilan diusahakan bisa mencapai 37 minggu
b. Berikan antibiotika (ampisilin 4x500 mg atau eritromisin bila tidak tahan ampisilin) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari
c. Jika umur kehamilan < 32-34 minggu dirawat selama air ketuban masih keluar, atau sampai air ketuban tidak keluar lagi
d. Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memacu kematangan paru janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu. Sedian terdiri atas betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari atau deksametason IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4 kali
e. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada infeksi, tes busa (-): beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan janin. Terminasi pada kehamilan 37 minggu
f. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan tokolitik (salbutamol), deksametason dan induksi sesudah 24 jam
g. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan induksi.
h. Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intrauterin)
2) Aktif
a. Kehamilan < 37 mingggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio caesar. Dapat pula diberikan misoprostol 50 µg intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali.
b. Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotik dosis tinggi, dan persalinn diakhiri :
a) Bila skor pelvic < 5, lakukan pematangan serviks, kemudian induksi. Jika tidak berhasil, akhiri persalinan dengan seksio Caesar.
b) Bila skor pelvic > 5, induksi persalinan, partus pervaginam.
C. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan
1. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan (Simatupang.E, J, 2006, hal 7)
Manjemen asuhan kebidanan adalah suatu metode pendekatan pemecahan masalah yang digunakan oleh bidan dalam proses pemecahan masalah dalam pemberian pelayanan Asuhan Kebidanan, atau merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan oleh bidan serta merupakan metode yang terorganisasi melalui tindakan yang logikal dalam memberi pelayanan.
- Tahapan dalam Manajemen Kebidanan (Menurut Varney H,2008)
Proses manajemen asuhan kebidanan adalah suatu proses pemecahan masalah dalam kebidanan menggunakan metode pengorganisasian alur pikir dan tindakan yang akan dilakukan dimana pemikiran atau tindakan tersebut bersifat logis, bukan saja oleh pelaksanaan kesehatan akan tetapi juga kepada klien sebagai objek dari proses manajemen asuhan kebidanan tersebut.
Langkah I : Identifikasi Data Dasar
Identifikasi dan analisa data dasar yaitu pengumpulan data untuk menilai kondisi klien. Adapun yang termasuk data dasar adalah riwayat kesehatan klien, pemeriksaan panggul, pemeriksaan fisik, serta catatan tentang kesehatan lalu dan sekarang dan hasil pemeriksaan laboratorium.
Semua data di atas harus memberikan informasi yang saling berhubungan (relevan) dan menggambarkan kondisi klien yang sebenarnya.
Langkah II : Identifikasi Diagnosa/Masalah Aktual
Dilakukan identifikasi yang benar tehadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yasng benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan sehingga ditemukan masalah atau diagnosis yang spesifik. Masalah sering berkaitan dengan wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan pengarahan, masalah ini sering menyertai diagnosa.
Langkah III : Identifikasi Diagnosa / Masalah Potensial
Mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi.
Langkah IV : Identifikasi Perlunya Tindakan Segera/emergensi dan Kolaborasi
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan.
Langkah V : Rencana Asuhan Kebidanan
Direncanakan asuhan yang menyeluruh, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi atau antisipasi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah diidentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya. Dengan perkataan lain asuhan terhadap wanita tersebut sudah mencakup setiap hal yang berkaitan dengan semua aspek asuhan, setiap rencana asuhan harus disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu oleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien merupakan bagian dari pelaksanaan rencana tersebut, oleh karena itu pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan pembahasan rencana bersama klien, kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melaksanakan tindakan.
Langkah VI : Implementasi Asuhan Kebidanan
Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh, seperti yang telah diuraikan pada langkah ke V dilaksanakan secara efesien dan aman. Implementasi dapat dikerjakan keseluruhan oleh bidan ataupun bekerjasama dengan tim kesehatan lain. Jika bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya: memastikan agar langkah-langkah tersebut benar-benar terlaksana).
Langkah VII : Evaluasi Asuhan Kebidanan
Dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasikan di dalam masalah dan diagnosa. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif pelaksanaannya. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut telah efektif sedang sebagian belum efektif.
D. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (Sualmah, dkk. 2009)
Asuhan yang diberikan harus dicatat secara benar, jelas, singkat dan logis dalam suatu metode pendokumentasian. Pendokumentasian yang benar adalah pendokumantasian yang dapat mengkomunikasikan kepada orang lain mengenai asuhan yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan pada seorang klien, yang didalamnya tersirat proses berfikir sistematis seorang bidan menghadapi seorang klien sesuai dengan langkah-langkah dalam proses manajemen asuhan kebidanan. Menurut Helen Varney, alur berfikir bidan saat menghadapi klien meliputi 7 (tujuh) langkah, agar diketahui orang lain apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan melalui proses berpikir sistematis, maka didokumentasikan dalam bentuk SOAP yaitu
Subjektif (S)
Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data dasar klien melalui anamnese sebagai langkah I Varney.
Objektif (O)
Menggambarkan pendokumentasian hasil pemriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan tes diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan kebidanan sebagai langkah I Varney.
Assesment (A)
Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu identifikasi : Dignosa/Masalah actual, Antisipasi Diagnosa/Masalah Potensial, Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan konsultasi/kolaborasi dan atau rujukan sebagai langkah II, III, dan IV Varney
Planning (P)
Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan, tindakan implementasi (I) dan Evaluasi (E) berdasarkan Assesmen sebagai langkah V,VI, dan VII
Table 1.1:Proses Manajemen Kebidanan Kompetensi Bidan Dan Dokumentasi
pencacatan dari
| SOAP/Notes Subjektif Objektif Assessment / Diagnose Pland: a. Konsul b. Tes lab c. Rujukan d. Pendidikan/konseling e. Follow up |
| 7 langkah varney | |
| Data | |
| Masalah/Diagnosa | |
| Adaptasi masalah potensial/diagnose lain | |
| Menetapkan kebutuhan segera untuk konsultasi,kolaborasi | |
| Perencanaan | Perencanaan |
| Implementasi | Implementasi |
| Evaluasi | Evaluasi |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar