BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Sebagian besar ketuban pecah dini yang terjadi pada umur kehamilan diatas 37 minggu, sedangkan pada umur kehamilan kurang 36 minggu tidak terlalu banyak. Ketuban pecah dini merupakan masalah kontroversial obstetric dalam kaitannya dengan penyebabnya. Pecahnya selaput ketuban sebelum waktunya menyebabkan kemungkinan infeksi dalam rahim, persalinan prematuritas yang akan meningkatkan kesakitan dan kematian ibu maupun janinnya (Manuaba, 2008).
Ada dua macam kemungkinan ketuban pecah dini, yaitu Ketuban Pecah Dini pada aterm dan Ketuban Pecah Dini pada preterm. Keduamya memiliki gejala yang sama, yaitu keluarnya cairan dan tidak ada keluhan sakit. Tanda-tanda khasnya adalah keluarnya cairan mendadak disertai bau yang khas, namun berbeda dengan bau air seni. Alirannya tidak terlalu deras keluar serta tidak disetai rasa mulas atau sakit perut. Namun, adakalanya hanya terjadi kebocoran kantung ketuban. Tanpa disadari oleh ibu cairan ketuban merembes sedikit demi sedikit hingga cairan ini makin berkurang. Akan terdeteksi jika si ibu baru merasakan perih dan sakit jika sijanin bergerak-gerak.
http://lenteraimpian.wordpress.com/ diakses 20 oktober 2011
Ketuban pecah prematur pada preterm yaitu pecahnya membran Chorio-amniotik sebelum onset persalinan pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu atau disebut juga Preterm Premature Rupture Of Membrane = Preterm Prelabour Rupture Of Membrane = PPROM,maka bahaya utama yang mengancam adalah terjadinya kelahiran prematur. (http://www.Scribd.com/KPD.htm. diakses tgl 20 oktober 2011)
Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding tipis yang berisi cairan dan janin selama masa kehamilan. Dinding kantung ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama disebut amnion, terdapat di sebelah dalam. Sedangkan, bagian kedua, yang terdapat di sebelah luar disebut chorion.
http://www.conectique.com/artickle.htm. diakses tgl 20 oktober 2011.
Cairan ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung amnion. Cairan ketuban ini terdiri dari 98 persen air dan sisanya garam anorganik serta bahan organik. Cairan ini dihasilkan selaput ketuban dan diduga dibentuk oleh sel-sel amnion, ditambah air kencing janin, serta cairan otak pada anensefalus. Volume pada hamil cukup bulan 1000-1500 ml, warna putih, agak keruh, serta mempunyai bau yang khas, agak amis dan manis. Cairan ini dengan berat jenis 11,008. Pada ibu hamil, air ketuban ini berguna untuk mempertahankan atau memberikan perlindungan terhadap bayi dari benturan yang diakibatkan oleh lingkungannya di luar rahim. Selain itu air ketuban bisa membuat janin bergerak dengan bebas ke segala arah. Tak hanya itu, manfaat lain dari air ketuban ini adalah untuk mendeteksi jenis kelamin, memerikasa kematangan paru-paru janin, Caranya yaitu dengan mengambil cairan ketuban melalui alat yang dimasukkan melalui dinding perut Ibu. Air ketuban juga berfungsi melindungi suhu tubuh janin, membersihkan jalan lahir jika ketuban pecah, dengan cairan yang steril, dan mempengaruhi keadaan di dalam vagina, sehingga bayi kurang mengalami infeksi. (http://www.conectique.com/artickle.htm. diakses tgl 20 oktober 2011).
Ketuban sebagai salah satu hasil konsepsi memiliki peranan penting baik dalam kelangsungan kehamilan maupun saat proses persalinan .dalam kehamilan ketuban berperan sebagai pelindung janin terhadap trauma dari luar,sehngga janin dapat bergerak bebas dan melindungi suhu tubuh janin.sementara itu pada proses persalinan yaitu meratakan tekanan pada uterus sehingga serviks terbuka.dan ketika selaput ketuban pecah saat inpartu maka akan semakin memberi tenaga untuk membuka jalan lahir karna membuat pembukaan serviks semakin besar sehingga mempercepat penurunan bagian terbawah janin, dan membantu membersihkan jalan lahir.
Ketuban Pecah Dini merupakan masalah yang masih kontroversial dalam kebidanan. Pengelolaan yang optimal dan yang baku masih belum ada, selalu berubah.KPD sering kali menimbulkan konsekuensi yang dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi terutama kematian perinatal yang cukup tinggi. Kematian perinatal yang cukup tinggi ini antara lain disebabkan karena kematian akibat kurang bulan, dan kejadian infeksi yang meningkat karena partus tak maju, partus lama, dan partus buatan yang sering dijumpai pada pengelolaan kasus KPD terutama pada pengelolaan konservatif
Ada 2 komplikasi yang sering terjadi,pada KPD yaitu : pertama, infeksi, karena ketuban yang utuh merupakan barier atau penghalang terhadap masuknya penyebab infeksi. Dengan tidak adanya selaput ketuban seperti pada KPD, flora vagina yang normal ada bisa menjadi patogen yang akan membahayakan baik pada ibu maupun pada janinnya. Oleh karena itu membutuhkan pengelolaan yang agresif seperti diinduksi untuk mempercepat persalinan dengan maksud untuk mengurangi kemungkinan resiko terjadinya infeksi ; kedua, adalah kurang bulan atau prematuritas, karena KPD sering terjadi pada kehamilan kurang bulan. Masalah yang sering timbul pada bayi yang kurang bulan adalah gejala sesak nafas atau respiratory Distress Syndrom (RDS) yang disebabkan karena belum masaknya paru.
http://www.medem.com/medlb/article_detaillb_for_printer.cfm?article_ID=zzzcoCHLUJC⊂_cat=2005, 2002
Keadaan ini kemudian menjadi salah satu pusat perhatian para ahli di bidang Obstetri oleh karena komplikasinya yang melibatkan ibu dan janin. Secara umum komplikasi yang menyertai KPD baik bagi si ibu maupun janin adalah ancaman infeksi (intrauterine ascending infection) yang nantinya akan berakibat fatal hingga terjadinya kematian janin bila penanganannya tidak segera dan tidak tepat,karena semakin besar periode laten maka resiko infeksi akan semakin besar.
Hal ini terkait data statistik yang menunjukan bahwa 85 % morbiditas dan mortalitas neonatus adalah prematuritas dan KPD premature (PPROM) merupakan factor resiko ketiga terbesar (30-40 % kehamilan dengan PPROM berakhir dengan kelahiran prematur) terjadinya kelahiran prematur dengan insiden sebesar 3 % dari seluruh kehamilan.
http://www.acog.org/acog_districts/dist8/jfprom.pdf diakses 20 oktober 2011
Menurut WHO dari seluruh kehamilan prevalensi KPD berkisar antara 3-18%. Saat aterm, 8-10 % wanita hamil datang dengan KPD dan 30-40% dari kasus KPD merupakan kehamilan preterm atau hanya sekitar 1,7% dari seluruh kehamilan. Pecahnya ketuban terlalu dini dapat berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan. Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan persalinan disebut periode laten (lag period). Bila periode laten terlalu panjang dan ketuban sudah pecah, maka dapat terjadi infeksi yang dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak.Keadaan ini kemudian menjadi salah satu pusat perhatian para ahli di bidang Obstetri oleh karena komplikasinya yang melibatkan ibu dan janin. http://www.womens-health.co.uk/prom.htm,
Menurut departemen kesehatan repoblik Indonesia dari beberapa penelitian melaporkan insidensi ketuban pecah dini preterm berkisar antara 8-10% dpari semua kehamilan dan pada kehamilan preterm sekitar 34% dari semua persalinan prematur.(http://medlinux.blogspot.com/ 2007 di akses 20 oktober 2011 )
Hal yang menguntungan dari angka kejadian KPD yang dilaporkan, bahwa lebih banyak terjadi pada kehamilan yang cukup bulan dari pada yang kurang bulan, yaitu sekitar 95 % (3), sedangkan pada kehamilan tidak cukup bulan atau KPD pada kehamilan preterm terjadi sekitar 34 % semua kelahiran premature.
(http://www.chclibrary.org/micromed/00061770.html,.diakses 20 oktober2011.)
Berdasarkan data yang diperoleh dari dines kesehatan makassar Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan KPD preterm terjadi 1% dari semua kehamilan. 70% kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan. KPD merupakan penyebab kelahiran prematur sebanyak 30%.(Http:// Med.unhas.ac.id)
Beberapa peneliti melaporkan hasil penelitian mereka dan didapatkan hasil yang bervariasi. Insidensi KPD berkisar antara 8 - 10 % dari semua kehamilan.(6) Hal yang menguntungan dari angka kejadian KPD yang dilaporkan, bahwa lebih banyak terjadi pada kehamilan yang cukup bulan dari pada yang kurang bulan, yaitu sekitar 95 % (3), sedangkan pada kehamilan tidak cukup bulan atau KPD pada kehamilan preterm terjadi sekitar 34 % semua kekahiran prematur.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Ketuban Pecah Dini preterm yaitu paritas, koreoamnionitis, hidramnion, kehamilan ganda, trauma, dan kelainan letak. Kelainan letak terjadi karena posisi janin dalam rahim yang tidak sesuai dengan jalan lahir yaitu seperti letak lintang dan letak sungsang, sebab adanya ketidak teraturan bagian terendah janin untuk menutupi atau menahan pintu atas panggul, sehingga mengurangi tekanan terhadap membran bagian bawah.
Dampak yang sering terjadi pada Ketuban Pecah Dini (KPD) pada ibu diantaranya adalah partus prematur, infeksi, karena ketuban yang utuh merupakan barier atau penghalang terhadap masuknya penyebab infeksi. Dengan tidak adanya selaput ketuban seperti pada Ketuban Pecah Dini (KPD), flora vagina yang normal bisa menjadi patogen yang akan membahayakan pada ibu yaitu infeksi, sedangkan dampak pada bayi secara langsung adalah prolapsus tali pusat dan secara tidak langsung disebabkan karena lamanya ketuban pecah lebih dari 24 jam sehingga menyebabkan terjadinya infeksi.( www.klikdokter.com diakses 20 oktober 2011)
Dengan adanya efek yang membahayakan dari terjadinya Ketuban Pecah Dini tersebut, maka perlu adanya strategi pelaksanaan yang adekuat menghadapi ketuban pecah dini antara lain : Pemeriksaan rutin paling sedikit 4 kali selama kehamilan dengan waktu trimester I : 2 kali, trimester II : 2 kali, trimester III : 3 kali (standar WHO). Segera ke dokter jika terdapat tetesan atau aliran cairan dari vagina, hindari infeksi dengan membersihkan daerah vagina dari arah depan ke belakang, Puasa dalam melakukan hubungan seksual untuk sementara, Istirahat yang cukup dan menjaga kebersihan sebab pada minggu-minggu terakhir kehamilan umumnya lebih banyak pengeluaran cairan pervaginam.Ketuban Pecah Dini merupakan penyebab terbesar persalinan premetur dengan berbagai akibatnya. Oleh karena itu, untuk mengurangi resiko terjadimya KPD pada kehamilan preterm,serta untuk menekan kematian perinatal maka diperlukan asuhan kebidanan yang intensif. Untuk itu, penulis tertarik untuk mengangkat kasus ibu hamil dengan KPD pada kehamilan preterm ini agar dapat digunakan dengan semestinya oleh berbagai pihak
.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana manajemen asuhan kebidanan dengan Ketuban Pecah Dini pada kehamilan preterm?
2. Bagaimana penatalaksanaan dari ketuban pecah dini preterm?
C. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup penulisan karya tulis ilmiah ini adalah Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ny”N” Kehamilan 36 Minggu Dengan Ketuban Pecah Dini preterm di Rumah Sakit Umum Daerah Syech Yusuf gowa tanggal 10 november 2011,
D. TUJUAN PENULISAN
a. Tujuan umum
Dapat melaksanakan manajemen asuhan kebidanan Dengan Ketuban Pecah Dini pada kehamilan preterm dengan menggunakan manajemen asuhan kebidanan sesuai dengan kompetensi atau wewenang bidan.
b. Tujuan khusus
a. Melaksanakan pengkajian dan analisis dengan Ketuban Pecah Dini pada preterm
b. Merumuskan diagnosa/masalah aktual dengan Ketuban Pecah pada Preterm
c. Merumuskan diagnosa/Masalah potensial dengan Ketuban Pecah Dini Preterm
d. Mengidentifikasi perlunya tindakan segera dan kolaborasi dengan Ketuban Pecah Dini Preterm
e. Menetapkan rencana tindakan asuhan dengan Ketuban Pecah Dini Preterm
f. Melaksanakan tindakan asuhan kebidanan yang telah disusun
g. Mengevaluasi tindakan yang telah dilaksanakan
h. Mendokumentasikan semua temuan dan tindakan yang telah diberikan
E. MANFAAT PENULISAN
a. Manfaat akademik
Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan ujian akhir di jenjang pendidikan program Diploma Tiga Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar fakultas Kesehatan Jurusan Kebidanan.
b. Manfaat ilmiah
Merupakan kontribusi pemikiran bagi penulis dalam proses penerapan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh khususnya tentang ketuban pecah dini preterm.
c. Manfaat praktis
Sebagai salah satu sumber informasi bagi penentu kebijakan dan pelaksanaan program baik di Depkes, maupun pihak Rumah Sakit dalam menyusun perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program upaya pencegahan ketuban pecah dini.
d. Manfaat bagi peneliti
Merupakan pengalaman ilmiah yang berharga yang dapat meningkatkan pengetahuan dan menambah wawasan tentang faktor yang berhubungan dengan ketuban pecah dini preterm.
e. Manfaat bagi institusi
Merupakan input dalam memberikan bekal bagi mahasiswa agar berhasil dalam menetapkan manajemen asuhan kebidanan dengan Ketuban Pecah Dini Preterm.
F. Metode Penulisan
Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini berdasarkan teori ilmiah dipadukan dengan praktek dan pengalaman,Penulis memerlukan data yang objektif dan relevan dengan teori-teori yang dijadikan analisa dalam pemecahan masalah untuk itu dalam Penulisan karya tulis ilmiah ini menggunakan metode :
1. Studi kepustakaan
Mempelajari buku-buku literature dan mengambil data-data dari internet, antara lain : membaca buku dari berbagai sumber yang berkaitan dengan Ketuban Pecah Dini, mengakses data melalui internet dan mempelajari karya tulis ilmiah yang ada.
2. Studi kasus
Dengan menggunakan pendekatan proses manajemen asuhan kebidanan yang meliputi 7 langkah varney yaitu : identifikasi dan analisa data dasar, identifikasi diagnosa/masalah aktual, identifikasi diagnosa/masalah potensial, melaksanakan tindakan segera dan kolaborasi, merencanakan asuhan kebidanan, melaksanakan asuhan kebidanan dan evaluasi.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara :
a. Anamnese/wawancara
Penulisan melakukan tanya jawab dengan klien dan suami maupun keluarganya, bidan, dokter di kamar bersalin yang dapat membantu dan memberikan keterangan atau info yang dibutuhkan dalam pemberian asuhan kebidanan.
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik dilakukan secara sistematis (head to toe) meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan ultrasonografi (USG) dan lan-lain.
c. Pengkajian Psikososial
Pengkajian psikososial dilakukan meliputi pengkajian status emosional, respon terhadap kondisi yang dialami serta pola interaksi klien terhadap keluarga, petugas kesehatan dan lingkungannya.
3. Studi dokumentasi
Membaca dan mempelajari status yang berhubungan dengan keadaan klien yang bersumber dari catatan dokter, bidan, perawat, petugas laboratorium dan atau hasil pemeriksaan penunjang lainnya.
4. Kasus
Mengadakan konsultasi dengan bidan, dokter yang menangani klien serta pembimbing karya tulis ilmiah mengenai masalah yang dialami klien yaitu Ketuban Pecah Dini.
G. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan yang digunakan untuk menulis karya tulis ini terdiri dari :
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan masalah
C. Ruang Lingkup Penulisan
D. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
E. Manfaat Penulisan
F. Metode Penulisan
G. Sistemetika Penulisan
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Persalinan
1. Pengertian Persalinan
2. Macam-macam Persalinan
3. Sebab-sebab terjadinya persalinan
4. Tanda-tanda Permulaan Persalinan
5. Tanda-tanda In Partu
6. Tahap-tahap Persalinan
7. Mekanisme Persalinan
B. Tinjauan Umum Tentang Ketuban Pecah Dini Preterm
1. Pengertian Ketuban Pecah Dini Preterm
2. Etiologi
3. Faktor Predisposisi
4. Diagnosis
5. Pemeriksaan Penunjang
6. Insidensi
7. Komplikasi
8. Patofisiologi
9. Penanganan
C. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan
1. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan
2. Tahapan Manajemen Asuhan Kebidanan
D. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP)
BAB III. STUDI KASUS
Langkah I Pengkajian dan Analisa Data Dasar
Langkah II Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual
Langkah III Merumuskan Diagnosa/Masalah Potensial
Langkah IV Tindakan Segera/emergensi dan Kolaborasi
Langkah V Rencana Tindakan Asuhan Kebidanan
Langkah VI Implementasi Asuhan Kebidanan
Langkah VII Evaluasi Asuhan Kebidanan
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar